Minggu, 09 April 2017

HUBUNGAN KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DENGAN KUALITAS PERAIRAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)
KAMPAR RIAU

                                                      Encik Rosiana                                 
1105120645
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP, Universitas Riau Pekanbaru, 28293
Email : encikrosiana@gmail.com

ABSTRACT
This study aims to determine the relationship between phytoplankton diversity in the quality of Koto Panjang Kampar’s River hydropower reservoir waters. The study was conducted on June, 1 2014 as 5 stations. The method used in this study is a survey method with the primary data and secondary data. The tools and materials used in this study is is Ekman grab, plastic containers, buckets, nets sorber, sample bottles, Lugol, formalin and Pasteur pipette. For chemical physics factor, measured directly in the field while the biological factors identified PMIPA natural laboratory. The results obtained in this study is that the diversity index in Koto Panjang Kampar’s River hydropower at each different station. The index value of diversity in the Koto Panjang Kampar’s River hydropower is moderate (H '= 2.88 to 3.49). The highest diversity index was found in station 4, located on the river that is located around the hydropower Site, and the lowest is at least 3 stations located in the river around the bridge Koto village mosque and the effect on the presence of phytoplankton.
Keywords : Koto Panjang Kampar’s River, water quality, plankton diversity

 


 PENDAHULUAN
Dari sudut ekologi, Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam tersebut. DAS di beberapa tempat di Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya alamnya yang intensif sehingga terdapat indikasi belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun dengan indikasi meningkatnya kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Disisi lain tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang system kehidupan, baik masyarakat di bagian hulu maupun hilir demikian besarnya.
DAS adalah suatu   wilayah   daratan   yang     merupakan    satu   kesatuan  dengan sungai dan anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No. 7 Tahun 2004, tentang Sumberdaya Air). Ekosistem Sungai Kampar merupakan salah satu DAS utama yang terletak di Provinsi Riau.
Berbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat tentunya memberikan dampak terhadap struktur dan fungsi DAS Kampar, salah satu tipe pemanfaatan yang berpengaruh langsung adalah pembuatan waduk. Waduk merupakan badan air yang terbentuk karena pembendungan aliran sungai. Waduk PLTA Koto Panjang yang berada di DAS Kampar dengan luas 124 km2 merupakan salah satu upaya pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan listrik. Aktifitas yang terdapat di sekitar waduk seperti pertanian, permukiman dan perikanan dapat memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan perairan waduk. Adanya kegiatan-kegiatan tersebut di atas diduga akan menyebabkan adanya masukan-masukan ke badan waduk tersebut yang akan menyebabkan terjadinya perubahan pada kualitas air yang memberikan dampak terhadap jenis dan keanekaragaman fitoplankton yang terdapat di perairan waduk tersebut. Berdasarkan sifat fisik, kimia dan biologis, waduk dibagi dalam zona mengalir (riverine), zona transisi dan zona tergenang (lacustrine) (Thomt et a.l,1990)
Selanjutnya dikemukakan bahwa biomassa dan komposisi fitoplankton dikendalikan oleh adanya pemangsaan (grazing) oleh zooplankton Unsur hara anorganik terutama fosfor dan nitrogen adalah material yang merupakan faktor penentu dalam kaitannya dengan produktivitas primer perairan. Kedua nutrient anorganik ini, terutama fosfor memiliki peranan yang sangat nyata, karena dapat mempercepat meningkatnya produktivitas primer perairan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar dari hulu hingga hilir pada tanggal 1 juni 2014. Metode yang digunakan adalah metode survey, dimana penetapan titik sampel dengan purposif random sampling pada 5 titik pengangamatan.  Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekman grab, wadah plastik, ember, jala sorber, botol sampel, lugol, formalin dan pipet tetes.
Pengambilan sampel dilakukan di  5 stasiun di sepanjang Daerah Aliran Sungai Kampar. Stasiun 1 berlokasi di  Batang Kampuah, stasiun 2 berlokasi di Kawasan perairan disekitar Kampar Resort, stasiun 3 berlokasi di sungai di sekitar Jembatan desa Koto Masjid, stasiun 4 berlokasi di sungai yang terletak di sekitar DAM Site dan stasiun 5 berlokasi di sungai yang terletak di sekitar daerah Kuok.
Sampel plankton diambil dengan menggunakan jala sorber yang berukuran 20 mesh Sampel lalu dimasukkaan ke dalam botol sampel dan diberi lugol sebanyak 3 tetes. Sedangkan benthos diambil dengan menggunakan ekman grab yang berukuran 15 x 15 cm. Sampel benthos lalu dimasukkan ke dalam wadah plastik dan diberi formalin Sampel plankton dan benthos dari masing-masing stasiun lalu dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi.
Parameter yang diamati yaitu pengukuran fisika kimia perairan dan pengukuran parameter biologi. Pengambilan sampel air secara vertical dilakukan berdasarkan kedalaman keping secchi (secchi disc) yaitu lapisan permukaan, pertengahan dan dasar perairan. Penentuan permukaan, pertengahan dan dasar pada kedalaman ditentukan setelah diketahui kedalaman secchi. Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan water sampler. Metode pengukuran sampel air dilakukan menurut APHA (American Public Health Association, 1992). Parameter kualitas air ini ada yang diukur di lapangan dan ada yang diukur di laboratorium. Parameter yang langsung diukur di lapangan (in situ) antara lain, Kecerahan, pH. DO, Suhu (°C) dan Kecepatan Arus (m/s). Contoh plankton dari setiap stasiun diambil dengan menyaring air waduk sebanyak 0,5 liter dengan menggunakan plankton net berukuran 20 mesh. Contoh air yang diperoleh dikonsentrasikan menjadi 125 ml, dimasukkan dalam botol sampel, lalu diberi bahan pengawet lugol. Di laboratorium sampel plankton lalu diamati dengan bantuan mikroskop Binokuler dan buku identifikasi. Pengamatan plankon sebanyak 10 lapang pandang untuk masing-masing sampel. Perhitungan  Indeks keanekaragaman atau indeks Shanon :


H’ = - ∑ Pi ln Pi

Keterangan :
Pi = ni/N
H’ = Indeks keragaman jenis
ni = Jumlah individu taksa ke-i
N = Jumlah total individu
Pi = Proporsi spesies ke-i
Adapun kriterianya adalah :
H < 1          =  Keanekaragaman rendah
3 >H  > 1    =  Keanekaragaman sedang
H > 3          =  Keanekaragaman tinggi







HASIL DAN PEMBAHASAN
Keanekaragaman Fitoplankton
Gambar 1 indeks keanekaragaman zooplankton dan phytoplankton Waduk PLTA Koto Panjang yang Berada di DAS Kampar
            Dari gambar 1, dapat dilihat bahwa indeks keanekaragaman indeks keanekaragaman fitoplankton mempunyai indeks keanekaragaman 2,88-3,49. Menurut Stirn (1981) apabila H’ < 1, maka komunitas biota dinyatakan tidak stabil, apabila H’ berkisar 1-3 maka stabilitas komunitas biota tersebut adalah moderat (sedang) dan apabila H’ > 3 berarti stabilitas/tinggi. Semakin besar nilai H’  menunjukkan semakin beragamnya kehidupan di perairan  tersebut, kondisi ini merupakan tempat hidup yang lebih baik. Kondisi di lokasi studi, mudah berubah dengan hanya mengalami pengaruh lingkungan yang relatif kecil.  Berdasarkan nilai keanekaragaman, perairan ini relatif lebih baik karena jauh dari sumber cemaran berupa limbah perkotaan dan industri yang mengalir ke perairan.karena memiliki nilai keragaman (H’>1). Nilai keragaman di perairan ini adalah moderat (H’ = 2,88-3,49). Indeks keanekaragaman tertinggi adalah terdapat pada stasiun 4 yang berlokasi di sungai yang terletak di sekitar DAM Site, dan yang paling terendah adalah pada stasiun 3  yang berlokasi di sungai di sekitar Jembatan desa Koto Masjid. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Weber (1973), indeks keanekaragaman organisme pada suatu komunitas sangat ditentukan oleh banyaknya jenis dan jumlah individu/jenis.
Berkaitan dengan indeks keanekaragaman ini untuk menentukan kriteria kualitas air William dan Doris (1966) dalam Weber (1973) mengatakan, apabila indeks keanekaragaman berkisar 1-3 kriteria kualitas airnya tercemar ringan. Hal yang sama dikemukakan Wiha (1975) dalamFahrul (2007) yang membuat kriteria kualitas air termasuk tercemar ringan jika indeks keanekaragaman antara 2-3. Apabila indeks keanekaragaman yang diperoleh dibandingkan dengan pendapat di atas maka waduk PLTA Koto Panjang termasuk pada kriteria tercemar ringan. William dan Doris (1966) dalam Weber (1973), mengatakan, jika indeks keanekaragaman antara 1-3, sebaran individu sedang (keragaman sedang), berarti perairan tersebut struktur komunitas organisme yang ada sedang.
Indeks keanekaragaman fitoplankton yang diperoleh berada pada batas kisaran yang dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan perairan Waduk PLTA Koto Panjang telah mengalami tekanan (gangguan) dan struktur komunitas fitoplankton di waduk tersebut kurang baik. Untuk itu perlu adanya usaha untuk meningkatkan kualitas lingkungan perairan waduk tersebut yaitu dengan cara mengurangi beban limbah yang masuk ke kawasan waduk PLTA Koto Panjang baik yang berasal dari luar waduk maupun dari dalam badan air waduk tersebut. adalah antara 0 - 1, apabila nilainya mendekati 0 (<0,5) berarti tidak terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya, sebaliknya apabila nilainya mende-kati 1 (>0,5) berarti terdapat spesies yang mendomi-nansi spesies yang lainnya. Apabila nilai-nilai indeks dominansi yang diperoleh dalam penelitian ini dibandingkan dengan pandapat tersebut yang nilainya mendekati nol, berarti tidak terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya.


Fisika Kimia Perairan
Tabel 1 Faktor fisik kimia pada setiap lokasi pencuplikan
No.
Faktor Fisika Kimia Perairan
STASIUN
1
2
3
4
5
1.
Kecerahan
21
77
25
116
110
2.
pH
6
6
6
6
6
3.
DO
8
7,6
7,1
5,6
6
4.
Suhu (°C)
27
32
32
31,1
29
5.
Kecepatan Arus (m/s)
6,7
7,2
0,3
8,2
0,15

Berdasarkan data faktor fisika kimia pada table 1, dapat dilihat bahwa kecerahan dari stasiun 1 ke stasiun 5 bervariasi. Sedangkan kecerahan yang paling tinggi adalah pada stasiun 4. Hal ini terbukti bahwa keanekaragam juga tinggi pada stasiun 4. Menurut Yazwar (2008) bahwa kecerahan berpengaruh langsung  terhadap perkembangan dan pertumbuhan fitoplankton.  Perairan Waduk PLTA Koto Panjang termasuk pada tingkat kecerahan  yang tinggi  dengan kecerahan 21-116.  Hal ini sesuai dengan pendapat Akrimi dan Gatot (2002) bahwa kecerahan air di bawah 100 cm tergolong tingkat kecerahan rendah dan sebaliknya. Sedangkan nilai pH pada ke 5 stasiun adalah sama yaitu 6. Menurut Lind (1979), bahwa pH optimal untuk pertumbuhan fitoplankton berkisar antara 6,0  –  8,0. Berdasarkan nilai tersebut maka perairan  waduk Koro Panjang  memiliki pH yang normal dan  mendukung  untuk pertumbuhan fitoplankton. Nilai derajat keasamaan (pH) menunjukkan derajat keasaman atau kebasaan suatu perairan karena pH mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan tumbuhan dan hewan akuatik (Odum, 1994). 
DO yang diperoleh  menunjukkan nilai  yang  berbeda. Nilai kandungan  oksigen terlarut berkisar antara  5,6 – 8. Penurunan oksigen terlarut  diduga disebabkan tingginya aktivitas dekomposisi bahan organik yang berasal dari kegiatan  pada daerah aliran sungai, seperti limbah pasar dan limbah rumah tangga. Tinggi rendahnya oksigen terlarut dalam  perairan juga dipengaruhi oleh faktor suhu,  tekanan dan konsentrasi berbagai ion yang masuk pada perairan (Yazwar, 2008).
Suhu yang diperoleh  berkisar  27-32oC.  Nilai tersebut merupakan nilai yang normal bagi perkembangan plankton di perairan tropis yaitu 21-35oC (Wardoyo 1983). Sedangkan menurut pendapat Yazwar (2008) bahwa suhu berpengaruh langsung terhadap perkembangan dan pertumbuhan fitoplankton dimana suhu  yang  optimaluntuk  pertumbuhan plankton 20-30 oC.Basmi (2000) menyatakan bahwa dalam setiap penelitian pada ekosistem akuatik pengukuran suhu air adalah hal yang mutlak untuk dilakukan. Hal ini disebabkan kelarutan berbagai gas di air serta semua aktivitas biologis di  dalam ekosistem akuatik sangat dipengaruhi oleh suhu.  Sedangkan kecepatan arus berkisar antara 0,15-6.7 m/s/. kecepatan arus yang paling deras adalah terdapat pada stasiun 4. Karena kondisi perairan yang sangat dalam dan banayak terdapat organism.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat  disimpulkan bahwa indeks keanekaragaman di Waduk Koto Panjang pada  setiap Stasiun berbeda. Nilai indeks keanekaragaman pada waduk Koto Panjang adalah moderat (H’ = 2,88-3,49). Indeks keanekaragaman tertinggi adalah terdapat pada stasiun 4 yang berlokasi di sungai yang terletak di sekitar DAM Site, dan yang paling terendah adalah pada stasiun 3  yang berlokasi di sungai di sekitar Jembatan desa Koto Masjid dan berpengaruh terhadap keberadaan fitoplankton.

DAFTAR PUSTAKA
APHA. l992. Standard Method for The Examination of Water and Wastewater. American Public Health Association. Washington. D.C.
Odum, E, P. 1994. Dasar-Dasar Ekologi.Terj. T. Samingan & B. Sriganono Yogyakarta : Edisi ketiga. Gajah Mada University-Press. Hal 412
Phillips, M.J., R.Clarke. and A. Mowat. l993. Phosphorous Leaching from Atlantic Salmon Diets. Aquaculture Enginering, 12. 47-54.
Saeni, M.S. l989. Kimia Lingkungan. Departemen P dan K. Dirjen Pendidikan Tinggi. PAU Ilmu Hayat. IPB.
Thomt, K.W.W., B.L. Kimnel, and F.E. Payne. l990. Reservoir Limnology. Ecological Perspective. A Wiley Interscience Publication. New York.
Weber, C.I. 1973. Biological Field and Laboratory Methods for Measuring the Quality of Surface Water and Effluents. U.S. Environmental Protection Agency, Office of Research and Development, Cincinnati, Ohio. EPA 670-4-73-001.
Basmi, J. 2000. Planktonologi : Plankton Sebagai  Bioindikator kualitas Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Hal : 40
Lismining, P dan Hendra,S. 2009. Kelimpahan dan komposisi Fitoplankton di Danau  Setani, Papua. Jur Limnotek. 161(2). Riset Pemacuan Stok Ikan. Hal: 89
Wardoyo, S.T.H. 1983.  Metode Pengukuran kualitas Air. Training . Penyusunan Analisis mengenai dampak lingkungan. PUSDI  –  PSL Institut Pertanian Bogor. 60 p

Yazwar. 2008.  Keanekaragaman Plankton dan Keterkaitannya dengan Kualitas Air di Danau Toba. Universitas Sumatera Utara
Kepadatan Populasi Hewan Tanah pada Vegetasi Permukaan Sekitar Areal Laboratorium PMIPA Universitas Riau
Encik Rosiana
Laboratorium Alam Biologi Jurusan Pendidikan Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam FKIP
Universitas Riau Pekanbaru 28293

ABSTRACT
This study was aimed to know the population density of macrofauna on the surface the vegetation around the area of ​​laboratory PMIPA University of Riau . This research was conducted in the area around the University of Riau PMIPA laboratory , on 11 April 2014 at 11:00 . The population density measurements with relative density . The method used in soil sampling is to use the least squares method by taking soil samples at each station. Materials used in this study were 4 % formaldehyde and water while the tool used is a petri dish , filter , reservoir container , plastic and hoes . Location of sampling is determined by the characteristics of the soil are grouped into several stations . Sampling was carried out at each station by performing soil sampling in advance by using the square of 21cm x 17 cm . parameters were observed in the population density of each type of soil and surface vegetation . Population density is calculated using the least squares method according the following formula : density ( density = D ) is the number of individuals ( N ) per unit area ( m2 ) or volume . The results showed that the population density of macrofauna on the surface of the vegetation around the area PMIPA Laboratory University of Riau is the population density is highest at station 1 station 1 because the area is an area of ​​non- vegetation ( grass ) and the type of soil found in the area is sandy clay .

Key words : soil animal, surface vegetation, density

Pendahuluan
Hewan tanah sebagai komponen biotik pada ekosistem tanah  atau ekosistem terrestrial  tidak terlepas dari pengaruh lingkungan.  Perubahan  struktur vegetasi pada ekosistem terrestrial dapat  mempengaruhi struktur komunitas hewan tanah. Pada ekosistem terrestrial ada komponen abiotik dan biotik yang sangat menentukan rantai ekologi dan ekosistem yang stabil akan mendukung perkembangan hewan tanah di ekosistem itu. Salah satu komponen biotik yang berperan penting pada ekosistem tanah adalah Arthropoda. Menurut Meglithsch (1972), Arthtropoda merupakan phylum terbesar  dalam kingdom Animalia dan kelompok terbesar dalam phylum itu adalah Insekta. Kehidupan hewan tanah sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat ditentukan keadaan daerah itu. Dengan perkataan lain keberadaan dan kepadatan suatu populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor lingkungan,yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. Faktor lingkungan abiotik secara besarnya dapat dibagi atas faktor fisika dan faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas dan tekstur tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah dan unsur-unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan struktur komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat. Faktor lingkungan biotik bagi hewan tanah adalah organisme lain yang juga terdapat di habitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan golongan hewan lainya. Pada komunitas itu jenis-jenis organisme itu saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi itu bisa berupa predasi, parasitisme, kompetisi dan penyakit. Universitas Riau mempunyai lahan gambut yang sangat luas, terutama disekitar areal laboratorium PMIPA Universitas Riau. Lahan Gambut mempunyai  karakteristik yang sangat unik. Pada musim hujan lahannya akan basah dan tergenang air, karena lahan gambut terbentuk dari lingkungan yang khas, yaitu rawa atau suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun, dan kemudian jika musim kemarau akan mengalami kekeringan (Noor, 2006). Lahan gmabut merupakan jenis tanah dengan kandungan bahan organik dan tingkat keasaman tinggi.

Bahan dan Metode
Penelitian ini dilakukan di sekitar areal laboratorium PMIPA Universitas Riau, pada tanggal 11 April 2014 pukul 11.00. Pengukuran kepadatan populasi ini dengan kepadatan nisbi. Metode yang digunakan  dalam pencuplikan tanah adalah dengan menggunakan metode kuadrat dengan mengambil sampel tanah pada setiap stasiun. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah formalin 4% dan air sedangkan  alat  yang  digunakan  adalah  cawan petri, saringan, wadah penampung, plastik dan cangkul. Letak pencuplikan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah yang dikelompokkan kedalam beberapa stasiun. Pengambilan sampel dilakukan pada setiap stasiun dengan melakukan pencuplikan tanah terlebih dahulu dengan menggunkan kuadrat 21cm X 17 cm. Penelitian dilakukan pada 8 stasiun. Adapun stasiun untuk pengambilan sampel pencuplikan tanah dan hewan tanah adalah stasiun I belakang up2b, stasiun II belakang kebun biologi, stasiun III dikebun lama tanpa tanaman, stasiun IV dikebun lama tanpa tanaman, stasiun V kebun lama, stasiun VI di depan jurnal biologi, stasiun VII di samping kelas jurusan kimia dan stasiun VIII di belakang laboratorium. Pencuplikan tanah  dilakukan  dengan menggunakan cangkul dengan kedalaman 21 cm pada setiap stasiun,  kemudian  tanah  tersebut dimasukkan dalam  kantong  plastik  dan sampel  tanah  yang  didapat  lalu  dibawa  ke laboratorium. Kemudian  sampel  tersebut  dimasukkan ke  dalam  suatu wadah yang telah diisikan air, dengan menggunkan saringan tanah disaring serta dipisahkan antara organism dan tanah. Hewan-hewan  tanah  tersebut disortir dan dimasukkan ke dalam cawan petri yang telah  diberi  formalin.  Selanjutnya dilakukan  identifikasi  hewan dengan menggunkan kunci determinasi dan mencocokkan objek dengan gambar dibuku dan internet. Dalam penelitian ini parameter yang diamati adalah kepadatan populasi pada setiap tipe tanah dan vegetasi permukaan. Kepadatan populasi dihitung dengan menggunakan metode kuadrat menurut Soegianto (1994) dengan rumus sebagai berikut:  kepadatan (density=D) adalah jumlah individu (N) per unit area (m2) atau volume.  Satuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  individu per unit area.

Hasil dan Pembahasan

Kepadatan populasi hewan tanah pada vegetasi permukaan
Hasil  perhitungan kepadatan populasi makrofauna pada setiap stasiun dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Beberapa jenis hewan tanah pada setiap stasiun

No
Nama Spesies
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
1
Decophylla smaragtina
-
2
-
-
4
2
-
-
2
Pheretima sp
5
1
-
4
1
20
10
-
3
Julus sp
-
1
-
-
-
1
-
-
4
Macrotermes gilvus
-
12
-
-
-
-
-
-
5
Valanga sp
-
1
-
-
-
-
-
-
6
Agryroneta sp
-
-
-
1
2
-
-
-
7
Lobobtera decipiens
-
-
-
-
-
-
1
-
8
Parcoblata pennysylvonica
-
-
-
-
-
-
1
1
9
Componotus carcyae
-
-
8
-
-
2
1
-
10
Scholopendra gigantean
4
-
-
-
-
-
-
3
11
Porylus laevigatus
35
-
4
-
1
3
1
6
12
Colembola
-
-
1
-
2
-
-
-
13
Gryllus assimilis
-
-
1
-
-
-
-
-
14
Limnea javanica
1
-
-
-
-
-
-
-

Hasil pengamatan pada table I menunjukkan bahwa kecenderungan  Porylus laevigatus tinggi populasinya pada stasiun I yaitu diarangan rumah,  sedangkan pada stasiun II Macrotermes gilvus yang tinggi. Pada satsiun III  Componotus carcyae, pada stasiun IV, VI dan VII kepadatan  paling tinggi adalah Pheretima sp. Pada stasiun V kepadatan paling tinggi adalah Decophylla smaragtina. Kepadatan yang paling terendah adalah Limnea javanica pada stasiun I, Valanga sp pada stasiun II dan Gryllus assimilis pada stasiun III. Kepadatan yang rendah ini mungkin karena faktor lingkungan biotik dan abiotik kurang mendukung.  Hal ini sesuai dengan pendapat Price (1998), bahwa kehidupan  populasi hewan    hewan  dipengaruhi oleh faktor  biotik  dan  faktor abiotik ,   ditambahkan oleh  Harington dan Stork (1997) bahwa faktor fisik lingkungan seperti temperature dapat memepengaruhi perkembangan dan fekunditas hewan tanah.
Tabel II Jumlah Individu, Kepadatan Populasi, Tipe Tanah dan Vegetasi Permukaan Pada Setiap Stasiun

Parameter
Stasiun
 I
Stasiun
II
Stasiun
III
Stasiun IV
Stasiun
V
Stasiun VI
Stasiun VII
Stasiun VIII
Jumlah individu
45
17
14
5
10
28
14
10
Kepadatan
0.007415
0.002801
0.002307
0.000824
0.001648
0.004614
0.002307
0.001648

Tabel III Tipe Tanah dan Vegetasi Permukaan Pada Setiap Stasiun
Tipe tanah
Liat berpasir
Lempung berpasir
lempung berpasir
liat berpasir
pasir berlempung
lempung berpasir
berliat halus
lempung berpasir
Vegetasi Permukaan
Rerumputan
Rerumputan & Tanaman Marpoyan
Rerumputan
Reumputan Serasah  Terong
Serasah Matoa
Serasah Meranti
Serasah Meranti
Serasah Akasia

Pada tabel II dapat dilihat kepadatan yang paling tinggi adalah pada stasiun 1 yaitu 0,007415. Pada satsiun II 0,002801, stasiun III 0.002307, stasiun IV 0,000824, stasiun V 0,001648, stasiun VI 0,004614, stasiun VII 0,002307, stasiun VIII 0,001648. Banyak sedikitnya populasi suatu makrofauna ditentukan dengan waktu aktif setiap spesies. Pada table III dapat dilihat kepadatan populasi yang paling tinggi adalah pada daerah nonvegetasi (rerumputan). Penelitian ini dilakukan pada pukul 11.00 WIB, yang mengakibatkan jumlah spesies semakin sedikit pada tanah yang ada pada daerah non vegetasi diurnal. Dari hasil tersebut bahwa semut Dorylus laevigatus merupakan makrofauna tanah yang paling dominan pada daerah nonvegetasi diurnal. Semut paling dominan pada daerah non vegetasi (berumput) dikarenakan tempatnya yang strategis bagi semut membuat sarang untuk koloninya karena pada tempat tersebut tanah tempat semut bersarang tertutup oleh serasah dan dapat melindunginya dari serangan fauna lain.
Kesimpulan
Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  kepadatan populasi hewan tanah pada vegetasi permukaan sekitar areal Laboratorium PMIPA Universitas Riau adalah Kepadatan populasi yang paling tinggi terdapat pada stasiun 1 karena daerah stasiun I merupakan daerah non vegetasi (rerumputan) dan tipe tanah yang terdapat didaerah tersebut adalah liat berpasir.

Daftar Pustaka
Meglitsch, Paul. A. 1972. Invertebrate Zoology. Second Edition. Oxford University, London.
Rossi, M.N. and Fowler, H.G., 2002. Manifulation of Fire Ant DensitySolenopsis  spp., for Short-Term Reduction of  Diatraea saccharalis  Larva densities in Brazil.  Scientia Agricola, Vol 59, N.2. p.389-392.
Soegianto, S., 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya Indonesia.
Harrington, R. and Stork, N.E., 1997.  Insects in a Changing Environment. Academy Press. Harcourt Brace& Company, Publishers London, San Diego, New York, Boston, Sydney, Tokyo, Toronto.