Minggu, 02 Juni 2013

jurnal kedua saya.....



EVALUASI KELESTARIAN HUTAN LARANGAN ADAT DAN KEARIFAN LOKAL BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT
 DESA RUMBIO KABUPATEN KAMPAR

ENCIK ROSIANA
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau
28293

ABSTRACT
This research did in the Kampar regency of Kampar district covering 530 ha called forest prohibition. Especially government of Kenagarian Rumbio is ninik mamak that 10 consisting of five tribes, namely Piliang tribe, Pitopang tribe, Domo tribe,  Caniago tribe, and Kampai tribe. The aim this research are to know the condition of forest prohibition Kenagarian Rumbio is the society participation in managing the forest prohibition, evaluating conservation of forest prohibition based on the participation of society. The method of the research is used survey method, focus group discussion technique and data collection technique that is by interview to obtain primary data by using analyzed qualitative data. The research of natural object using instrument like camera digital and tape recorder. Data collecting is done observation way by doing research directly to the public forest and a professional that know the condition of forest location and society participation. The result shown that this study indicate that fairly good level of community participation in conserving on prohibiting forest, it because the society has been realized with good life of the forest which has been behind many economic benefits.

Key words : Prohibition forest, ninik mamak, tribe, Kenagarian Rumbio, Datuok Ulaksimano.


PENDAHULUAN
Hutan merupakan gudang penyimpan air dan tempat menyerapnya air hujan yang merupakan bagian dari sumber daya alam di Kabupaten Kampar yang sangat luas sekitar 530 ha terdapat suatu kawasan hutan ulayat. Tanah ulayat merupakan bagian dari hutan ulayat berupa tanah yang menurut masyarakat adat diakui sebagai tanah masyarakat adat yang sudah ada pengakuan dari pimpinan adat Desa Rumbio. Pada awalnya, Desa Rumbio adalah suatu  kenagarian Rumbio kemudian dipecah menjadi lima desa yaitu Desa Rumbio, Desa Padang Mutung, Desa Alam Panjang, Desa Pulau Payung dan Desa Teratak. Walaupun negeri Rumbio dipecah menjadi lima desa secara pemerintahan namun secara adat Negeri Rumbio tetap dalam satu kesatuan yang dipimpin oleh ninik mamak secara eksternal yaitu Datuok Godang dari Suku Domo sedangkan internalnya dipimpin oleh Datuok Ulaksimano dari Suku Pitopang dan terdiri dari lima suku yaitu Suku Piliang, Suku Pitopang, Suku Domo, Suku Caniago, dan Suku Kampar. Hal ini dilatarbelakangi bahwa masyarakat yang tidak mengerti diberikan stimulan berupa aturan adat yang mengikat mereka agar tetap melestarikan hutan ulayatnya tanpa mengkonservasi hutan tersebut dengan perkebunan dan pemukiman penduduk.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat serta partisipasi masyarakat. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan kemandirian masyarakat (Kartasamita, 1996).
Hutan adat merupakan hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat  (UU no 41 tahun 1991). Dalam perlindungan hutan adat Desa Rumbio tergolong kategori hutan larangan adat karena yang perlu melestarikannya adalah setiap orang yang masuk dalam hutan itu dengan menjaga dan tidak merusak kearifan lokal yang ada di Desa Rumbio, dalam hal ini dibentuklah kelembagaan adat yang dipimpin oleh penghulu dan pemangku adat yang bertanggung jawab dan berperan penting dalam pelestarian hutan sesuai dengan aturan aturan adat yang berlaku. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi kelestarian hutan larangan adat dan kearifan lokal Kenagarian Rumbio baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan. 
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Dusun V Danau Siboghia, Desa Rumbio, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, pada tanggal 8 - 9 Desember 2012 pada pukul 10.00 – 12.00.  Sekitar 2 km dari pemukiman penduduk ditemukan hutan larangan adat yang luasnya 530 ha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik pengumpulan data untuk memperoleh data primer dan focus group discussion. Selain itu, menggunakan wawancara (personal interview) semiterstruktur dengan alasan agar responden tidak hanya memberikan informasi namun juga dapat menyampaikan pendapatnya secara terbuka kepada questioner dengan pengamatan langsung. Dalam penelitian ini digunakan alat yaitu kamera digital dan tape recorder serta alat tulis. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) kondisi biofisik, fisiografi lahan, karakteristik flora dan fauna (biodiversity), sistem pertanian disekitar hutan, (2) kondisi social ekonomi masyarakat (3) cara pengelolaan hutan oleh masyarakat adat, (4) bentuk kelembagaan, (5) permasalahan, tantangan dan ancaman yang muncul dalam pelestarian hutan larangan adat, (6) upaya pelestarian hutan dimasa yang akan datang, (7) tingkat keberlanjutan hutan adat sehubungan banyaknya permasalahan. Dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari ninik mamak dan masyarakat adat serta data sekunder yang diperoleh dari buku sebagai referensi. Tingkat kelestarian hutan cukup baik karena adanya kesadaran masyarakat adat akan pentingnya pelestarian hutan untuk kebutuhan dan sumber kehidupan bagi masyarakat.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejarah Singkat Kenagarian Rumbio
            Istilah Rumbio berasal dari kata “umbi” diartikan sebagai “musyawarah” dan diikuti dengan huruf “o” menjadi kata “umbio” sehingga sering disebut “rumbio” (Tarmizi, ninik mamak), didefinisikan bahwa musyawarah adalah kunci utama dalam pemecahan masalah tanpa melihat perbedaan harkat dan martabat. Sebelum Indonesia merdeka, Rumbio pada mulanya merupakan suatu kampung yang disebut dengan kenagarian dibagi menjadi lima koto kampar yaitu kenagarian Rumbio, Air Tiris, Bangkinang, Salo dan Kuok yang tidak termasuk wilayah pemerintah. Sekitar tahun 1981, pemerintah mengeluarkan undang - undang pedesaan yang menyatakan bahwa seluruh kenegerian dipecah atau diriadakan lagi sehingga terbentuklah desa desa.
Dari aturan pemerintah, dibentuklah lima desa yaitu, Desa Pulau Payung, Desa Alam Panjang, Desa Tratak, Desa Padang Utung, dan Desa Rumbio. Desa Rumbio dipimpin oleh ninik mamak 10 orang dari 5  persukuan yang terdiri atas Suku Putopang yang dipimpin oleh dua penghulu yaitu Datuok Ulaksimanok dan Datuok Raja Mangkuto, suku Domo dipimpin oleh Datuok Godang dan Datuok Gindo Maghajo, Suku Piliang dipimpin oleh Datuok Putioh dan Datuok Majo Bosou, Suku Kampai dipimpin oleh Datuok Sinagho dan Datuok Paduko, Suku Caniago dipimpin olah Datuok Gindoh Malano dan Datuok Pito Malano. Warga asli kenagarian Rumbio adalah suku Domo dan suku Pitopang yang menggunakan bahasa Melayu dengan dialek local yang cukup khas. Ninik mamak merupakan forum para pemangku adat dari kedua suku Desa Rumbio, yang berkewajiban mempertahankan warisan – warisan agar tetap menjadi pedoman bagi para anak kemenakan. Salah satu kearifan itu berupa kearifan dalam mempertahankan sebagian hutan alam yaitu hutan larangan.
Kondisi Hutan Larangan Desa Rumbio
            Pada dasarnya, hutan larangan adat berarti hutan dimana diberlakukan sejumlah larangan oleh Ninik Mamak selaku pemangku adat. Adapun larangan yang terpenting ada dua yaitu larangan menebang pohon dan larangan membuka lahan. Hutan larangan adat Desa Rumbio termasuk hutan tropis datran rendah yang kaya akan beraneka flora dan fauna yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakatyang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi seperti nangka hutan, Meranti, Kulim, Tampui dan sebagainya. Selain itu terdapat berbagi jenis fauna seperti monyet, babi hutan, harimau, dan sebagainya. Berikut daftar flora dan fauna yang terdapat dihutan larangan adat Desa Rumbio berdasarkan pengamatan,


Table 3. 1 daftar flora yang terdapat di hutan larangan adat Desa Rumbio
Nama Lokal                                                  Nama Latin
Petai                                                        Parkia speciosa
Nangka hutan                                          Artocarpus integer
Kempas                                                  Koompassia malccensis
Tampui                                                       Baccaurea sp
Pulai                                                           Alstonia spp
Akasia                                                          Acassia sp
Kulim                                                  Scorodocarpus borneensis
Pasak bumi                                            Eurycomma longifolia
Keranji                                                      Dipterocarpus spp
Meranti                                                         Shorea spp
Ara                                                                 Ficus spp

Table 3.2 daftar fauna yang terdapat di hutan larangan adat Desa Rumbio
Nama Lokal
Nama Latin
Babi hutan
Sus scrofa
Monyet
Macaca nemestrina
Kijang
Muntiacus muntjak
Ungko
Hyalobates lar

Pengelolaan Hutan Oleh Masyarakat
            Tingkat partisipasi dalam pengelolaan hutan dalam menjaga kelestarian hutan larangan adat Desa Rumbio  cukup baik, hal ini ditandai dengan masyarakat mengikuti patrol bersama ninik mamak, melakukan penanaman didalam hutan larangan adat. Alasannya agar masyarakat tidak sembarang menebang hutan karena hutan ini termasuk hutan larangan adat yang wajib dilindungi. Selain itu hutan ini mengalirkan air sungai yang dapat dimanfaatkan oleh masyrakat terdiri dari sunagi tanduk dan sungai takorak. Dengan aliran air sungai tersebut, dimanfaaatkan warga membuat kolam ikan sebagai mata pencaharian sampingan selain persawahan, perkebunan karet dan perkebunan sawit. Pengelolaan air sungai juga dimanfaatkan warga untuk mencuci dan untuk minum dengan membuat depot air minum. Adapun denah wilayah menuju hutan larangan dengan pemukiman warga serta perkebunan masyarakat adalah sebagai berikut:
Sawah
Kolam
Kebun karet
Perkampungan
Hutan larangan adat
Kolam
Sawah
Kebun karet
Perkampungan
Hutan larangan adat
 








Kelembagaan Adat Desa Rumbio
            Kelembagaan Desa Rumbio terdiri dari kelembagaan formal dan informal. Kelembagaan formal yaitu berupa yayasan pelopor. Sedangkan informal adalah kepemimpinan ninik mamak yang sangat dihormati oleh masyrakat secara turun temurun. Ninik mamak cukup dominan, kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan ninik mamak yang sepuluh dipimpin oleh Datuok Ulak Simano dari suku Pitopang selalu dipatuhi masyarakat selain itu didirikan SPKP yang menerapkan hutan sejati, yang diketuai oleh Syahrul, kepala dusun yaitu Tarmizi, dan mempunyai seorang kepala desa yaitu Edison S. Pi. M. Si yang mempunyai kewajiban melindungi dan menjaga kelestarian hutan larangan adat, disamping ninik mamak.








Struktur kelembagaan SPKP Desa Rumbio
Dt. Ulak Simano
Kepala Desa
Dt. Raja Mangkuto
Ketua BPD
LPM Desa Rumbio
Ketua SPKP
Dt. Tumanggung
Ninik mamak pemuda Desa Rumbio  Kelompok pemadam api
Bendahara
Sekretaris
KMPM/KTM Rumbio
Koordinator bidang penyuluhan
Koordinator bidang kerjasama
Koordinator bidang bina usaha
 



















Permasalahan, Upaya, dan Tingkat Keberlanjutan Dalam Pegelolaan Hutan Adat
            Permasalahan yaitu kekhawatiran masyarakat dengan adanya masyarakat yang menganggu kelestarian hutan maka mata pencaharian mereka untuk meningkatkan taraf kehidupan akan terganggu. Oleh karena itu, masyarakat setempat mempunyai prinsip pucuk kerapatan adat yaitu “kadaghek babungo kaghang”. Masyarakat mengharapkan adanya keterlibatan langsung pemerintah setempat dengan terjun langsung yang artinya menjaga, mengawasi dan melestarikan hutan larangan adat tersebut.
            Dengan berbasiskan kalimat “adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitab Allah” yang artinya adat juga berpegang teguh kepada agama yang bersendikan alquran dan al Hadist. Menurut Kamaruzzan, pemangku adat bahwa adat merupakan tingkah laku manusia yang menjadi kelembagaan atau aturan yang sesuai dengan dasarnya yaitu syara’. Oleh karena itu, larangan agama juga dipatuhi termasuk penebangan hutan liar tanpa meminta izin pemangku adat, penghulu dan pemerintah setempat.

KESIMPULAN
Tingkat kelestarian hutan larangan adat dan menjaga kearifan lokal berbasis partisipasi masyarakat Kenagarian Rumbio Kabupaten Kampar cukup baik, hal ini disebabkan  karena masyarakat menyadari akan fungsi hutan bagi kehidupan bermasyarakat yang merupakan sumber ekonomi masyarakat setempat dengan mematuhi segala aturan adat yang bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan larangan adat agar berkelanjutan untuk dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Partisipasi masyarakat Desa Rumbio Kabupaten Kampar dalam menjaga hutan larangan adat ini dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor internal dan eksternal. Factor internal adalah, factor yang ada dalam diri masyarakat adat berupa pengetahuan dimana masyarakat sudah menyadari akan pentingnya menjaga hutan karena hutan merupakan salah satu sumber kehidupan dengan mematuhi aturan aturan adat yang ada sejak dahulu terbentuk diturunkan secara kesinambungan dan sudah tertanam pada setiap masyarakat adat. Factor eksternal yaitu peran ninik mamak sebagai perintis utama dan pertama sebagai pelopor yang cukup gigih dalam pelestarian hutan larangan adat tersebut, dengan patroli kedalam hutan larangan dan mengajak para pencinta alam untuk mengelilingi hutan.

DAFTAR PUSTAKA
Marpaung, Leden. 1995. Tindak Pidana Hutan, Hasil Hutan, dan Satwa. Erlangga: Jakarta
Masfriastiadi. 2010. Evaluasi Kelestarian Hutan Rakyat Berbasis Partisipasi Masyarakat. UR: Pekanbaru, Riau.
Nasir, Muhammad. 2010. Partisipasi Masyarakat Dalam Menjaga Kelestarian Hutan Larangan Kenegerian Rumbio Kabupaten Kampar. UR: Pekanbaru, Riau.
Seskanita. 2010. Peran Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Ulayat Desa Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. UR: Pekanbaru, Riau.
Siahaan, N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Erlangga : Jakarta
Suparni, Niniek. 1994. Pelestarian Pengelolaan dan Penegakan Hukum Lingkungan. Sinar Grafika : Jakarta
Supriadi. 2005. Hukum Lingkungan di Indonesia. Sinar Grafika : Jakarta







Jumat, 27 April 2012

jurnal pertama.. semoga bermanfaat



RESPON PERTUMBUHAN KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L)
TERHADAP DOSIS NPK MUTIARA

Encik Rosiana
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau
Pekanbaru
28293

                                              ABSTRACT

The aim of this research is to determine the growth response of green beans (Phaseolus radiatus L) to doses of NPK Pearl Phosca 15:15:15 of  Nature carried out in the field area of ​​Biology Laboratory FKIP University of Riau, on 30 November 2012. The experiment used Group randomized design (GRD) with 3 replicated and 4 treatments, that field measure is 3 × 2 m2. The collected data were analyzed using LSD test on real level 5 %. The first is NPK fertilizer contains N0 = 0 g NPK mutiara (control), N1 = 20 g NPK mutiara, N2 = 40 g of NPK mutiara, N3 = 60 g NPK mutiara. On this research, parameters that used is plant height, number of leaves and wet biomass plants. The result showed that the NPK doses effect on wet biomass plant leaves and had no effect on plant height and amount of leaves.

Keywords: NPK Pearl, Green beans (Phaseolus radiatus L)
---

PENDAHULUAN

Kacang hijau ( Phaseolus radiates L. ) merupakan tanaman kacang – kacangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Ditinjau dari aspek agronomis dan okonomis, tanamn kacang hijau memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan tanaman kacang – kacangan lainnya yaitu : lebih tahan terhadap kekeringan, hama dan penyakit yang menyerang relative sedikit, dapat dipanen dalam waktu yang relative singkat ( 55 – 60 hari ), dapat ditanam pada tanah yang kurang subur dan cara budidaya cukup mudah dengan resiko kegagalan panen secara total relative kecil, serta harga jual tinggi dan stabil. Kacang hijau termasuk tanaman tropis yang menghendaki suasana panas selama hidupnya. Tanaman ini dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 m diatas permukaan laut kondisi lingkungan yang dikehendaki tanaman kacang hijau ialah suhu optimum 25-27 ̊̊̊ C, dengan kelembapan rata –rata 65 % dan cukup penyinaran matahari.
Biji kacang hijau merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral yang penting dalam memenuhi gizi masyarakat Indonesia sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Kandungan gizi kacang hijau sangat baik karena setiap 100 g biji kacang hijau mengandung kalori 345 kal, protein 22.2 g, lemak 1.2 g, karbohidrat 62.9 g, besi 6.7 mg, kalsium 125 mg, fosfor 320 mg, vitamin A 157 mg, vitamin B 10.64 mg, vitamin C 6 mg, dan air 10 g air
Salah satu faktor penting dalam peningkatan produksi kacang hijau yaitu pemipukan. Pemupukan merupakan usaha memberikan unsure hara kepada tanaman. Berdasarkan cara pemberiannya, ada pupuk yang diberikan melalui tanah atau akar dan diberikan melalui daun. Umumnya pupuk yang diberikan adalah pupuk anorganik berupa urea, SP – 36, KCI yang merupakan sumber nitrogen, fosfor, dan kalium. Ketiga unsure ini diperlukan tanaman kacang hijau dalam jumlah besar karena sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangannya (Fitter, 1994)
Unsure N, P dan K sangat dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak dan tersedia dalam pertumbuhan tanaman baik masa vegetative maupun masa generative. Ketiga unsure ini memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsure N digunakan tanaman untuk membentuk asam amino yang akan diubah menjadi protein, dibutuhkan dalam pembentukan  senyawa penting seperti klorofil, asam nukleat dan enzim, serta N dibutuhkan dalam jumlah yang relative besar pada pertumbuhan tanaman khususnya pertumbuhan vegetative seperti perkembangan batang dan daun. Unsure P berfungsi membentuk asam nukleat (DNA dan Rna ), menyimpan serta memindahkan energy ATP dan ADP, merangsang pembelaan sel, dan membantu proses asimilasi dan respirasi. P merangsang pembelaan sel, dan membantu proses asimilasi dan respirasi. P merangsang pembentukan bunga, buah, dan biji bahkan mampu mempercepat pemasakan buah dan membuat biji menjadi bernas. Unsure K berperan dalam proses metabolisme yaitu fotosintesis dan respirasi. Peranan K  yaitu translokasi gula pada pembentukan pati dan protein, membantu proses membuka dan menutup stomata, memperkuat tanaman supaya daun, bunga, dan buah tidak mudah rontok, serta memperbaiki ukuran dan kualitas buah pada masa generative.
Penggunaan pupuk anorganik ( N, P, K ) sangat menguntungkan karena dapat diberikan dalam jumlah yang diperlukan tanaman dalam bentuk yang cepat tersedia. Walaupun demikian, bila penggunaannya tanpa perhitungan akan merusak lingkunangandan pupuk ini sering hilang sebelum dapat diserap oleh tanaman (proses pencucian, hanyut, menguap) atau terikat oleh unsure lain sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Guna mengatasi kurang efektifnya pemupukan kacang hijau melalui tanah maka dilakukan kombinasi dengan pemupukan melalui daun (Gardner. 1991).
Berdasarkan uraian tersebut penulis telah melakukan penelitian yang berjudul “Respon Pertumbuhan Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L) Terhadap Dosis NPK Mutiara.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan Laboratorium Alam Biologi FKIP Universitas Riau, Jl. Bina Widya Km 12, 5, Tampan, Pekanbaru dilakukan pada tanggal 30 November 2012. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kacang hijau, pupuk NPK Mutiara Phosca dengan perbandingan 15:15:15. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, garu, neraca Ohaus, penggaris / meteran, dan alat tulis.  Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok  (RAK) dengan 3 ulangan dan 4 perlakuan dibuat dalam beberapa bedengan dengan luas lahannya 3 × 2 m2. Adapun perlakuannya yaitu : N0 = 0 gr NPK mutiara (kontrol), N1 = 20 gr NPK mutiara, N2 = 40 gr NPK mutiara, N3 = 60 gr NPK mutiara.
 Biji Kacang Hijau direndam selama satu malam (± 20 Jam ). Biji yang akan ditanam adalah biji yang telah terimbibisi saat perendaman. pengacakan dilakukan di dalam blok. Pemberian NPK dilakukan 2 tahap yaitu 1/3 dosis di berikan saat berumur 5 hari setelah tanam dan 2/3 dosis lagi pada umur 15 sehari setelah tanam. Pemberian NPK Mutiara Phosca 15:15:15, dilakukan dengan cara ditabur di permukaan tanah dan sebelum penanaman, tanah digemburkan. Selama proses pertumbuhan, tanaman disiram pagi dan sore serta rumput-rumput liar di bersihkan dari sekitar tanaman.
Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai) dan biomassa basah tanaman (gr). Data-data yang terkumpul dilanjutkan dengan uji lanjut LSD pada taraf 5 %.

 Gambar 1 : Design Blok RAK








Blok I

Blok II

Blok III


N3

N1

N2













N1

N3

N0













N0

N2

N3













N2

N0

N1






















                                                                                                                  


HASIL DAN PEMBAHASAN
PARAMETER
HASIL PENELITIAN
N0
N1
N2
N3
Tinggi tanaman (cm)

7. 53a

9.67a

9.83a

10.83a
Jumlah daun (helai)
12. 00a
14. 33a
14.66a
17.00a
Biomassa basah (gr)
4.32a
4.87b
9.93c
13.27d
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pemberian dosis NPK Mutiara  berpengaruh terhadap biomassa basah tanaman namun tidak berpengaruh pada tinggi tanaman serta jumlah helaian daun. Adapun data hasil pengukuran tanaman  kacang hijau (Phaseolus radiates L) disajikan dalam tabel parameter berikut.

Keterangan: Angka – angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada baris dan kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf uji LSD 5 %.
Tabel diatas memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan N, P, K tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah helai daun tanaman. Hal ini diduga pada tinggi tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu cahaya dan suhu, dimana tanaman mendapatkan intensitas cahaya yang sama sehingga perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman. Fitter dan Hay (1994) menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya dan suhu, dimana kedua faktor ini berperan penting dalam produksi dan transportasi bahan makanan, disamping itu tinggi tanaman juga dipengaruhi tingkat kesuburan tanah. Kandungan N dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan tinggi tanaman, sedangkan kandungan dalam tanah dalam percobaan  dalam tanah sangat rendah yatu 0,09 %. Oleh karena itu pada tinggi tanaman dan jumlah helaian daun faktor cahaya dan suhu tidak berpengaruh, Setyamidjaja (1986) menyatakan bahwa salah satu peranan  nitrogen adalah merangsang pertumbuhan vegtatif. Ditambahkan Gardner, dkk (1991) menyatakan bahwa nitrogen dan air akan meningkatkan tinggi tanaman dan organ vegetative tumbuhan. Nitrogen sangat dibutuhkan untuk pembelahan dan pembesaran sel, sehingga unsur ini sangat penting keberadaannya pada fase vegetative tanaman kacang hijau. Pada biomassa tanaman, pada tanah sedikit mengandung unsur hara yaitu N, P dan K. pada unsur K dapat meningkatkan laju fotosintesis dan dapat membantu mentranslokasikan fotosintat pada tubuh tanaman yang kemudian diteruskan ke organ penimbun hasil fotosintat. Dengan meningkatnya unsur hara dalam tanah akan memberikan penaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman, begitu pula sebaliknya. Nyakpa, dkk (1988) menyatakan bahwa suatu varietas tanaman tidak akan memberikan hasil yang baik jika kebutuhan akan unsur hara terpenuhi.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis pupuk NPK Mutiara Phosca 15:15:15 berpengaruh nyata terhadap biomassa basah, tetapi tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun .

DAFTAR PUSTAKA
Baskara.2011.Pengaruh Pemberian Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan KacanG Jenis Pelanduk dan Gajah.Http: // Baskara90.wordpress.com/2011/01/03/pengaruh-pemberian-pupuk-npk-terhadap-pertumbuhan-kacang-jenis-pelanduk-dan-gajah (diakses tanggal  10 Januari 2013)
Fatmawati, Andi Apryani. 2007. Petunjuk Praktikum Dasar-dasar Agronomi. Jurusan Agronomi-Faperta Untirta : Serang.
Fitter, L., H dan R.,K.M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman PPS PAU: Bogor.
Gardner, F. P, R. B. Pearceand R. I. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (penerjemah Susilo, H). UI : Jakarta.
Harjadi, M.M. Sri Setyati. 1988. Pengantar Agronomi. Gramedia: Jakarta.
Nyakpa, M. Yusuf, et al. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lmpung : Lampung.
Setyamidjaja. 1986. Pengantar Agronomi. Gramedia : Jakarta
Soeprapto, S. H.1993. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya : Jakarta.
Tjirosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.